JOMBANG – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti area Sidang Pleno yang digelar di Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, pada Jumat (28/8/2026). Di tengah riuhnya ribuan muktamarilin dan nahdliyin yang memadati lokasi, kehadiran jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Pegunungan menjadi magnet perhatian tersendiri bagi para peserta sidang. Sebagai salah satu wilayah daerah otonomi baru (DOB) di ujung timur Indonesia, kehadiran mereka tidak hanya sekadar memenuhi undangan organisatoris, melainkan membawa misi besar tentang pentingnya merawat tenun kebangsaan, toleransi, serta persatuan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang begitu luar biasa.
Membawa Misi Inklusivitas dari Indonesia Timur
Utusan dari bumi Cendrawasih ini dipimpin langsung oleh tokoh intelektual muda Papua, Abdul Qahar Yelipele, S.Pd., M.Pd. Kehadiran PWNU Papua Pegunungan di bumi santri Jombang ini menegaskan eksistensi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini yang kian inklusif dan merambah ke seluruh penjuru Nusantara tanpa terkecuali. Sidang pleno yang membahas berbagai agenda strategis organisasi tersebut menjadi momentum penting bagi PWNU Papua Pegunungan untuk bersuara, berdiskusi, dan menyumbangkan pemikiran-pemikiran konstruktif demi kemajuan umat, khususnya di wilayah timur Indonesia yang memiliki karakteristik sosial-budaya yang unik.
Kehadiran delegasi dari Papua Pegunungan ini juga membawa cerita unik sekaligus mengharukan mengenai toleransi beragama yang sangat nyata di lapangan. Dalam kesempatan wawancara di sela-sela sidang pleno, Abdul Qahar Yelipele menyampaikan bahwa kegiatan NU ini sesungguhnya adalah milik semua elemen masyarakat, melintasi sekat-sekat perbedaan keyakinan yang ada. Beliau menceritakan bagaimana harmoni sosial terjalin erat dalam menyukseskan perjalanan mereka ke tanah Jawa.
Pesan Damai dan Tradisi Musyawarah NU
"Acara ini adalah hajatan kita bersama dan bahkan 1 dan 2 orang saudara kami nasrani tetapi dengan bangganya ikut kegiatan ini, dan saya mengingkin bahwa perdebatan yang mengarah ke konflik bisa dihindari dan tradisi nu itu musyawarah supaya nu bisa berkembang lebih baik," ujar Abdul Qahar Yelipele, S.Pd., M.Pd dengan penuh khidmat di hadapan awak media. Pernyataan tersebut memperlihatkan betapa nilai-nilai persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) telah membumi dengan sangat indah di tanah Papua, di mana perbedaan agama bukanlah penghalang untuk saling mendukung dalam menyukseskan agenda organisasi keagamaan.
Lebih lanjut, Abdul Qahar menekankan pentingnya mengedepankan prinsip musyawarah mufakat yang selama ini menjadi pilar utama dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Di tengah dinamika sidang pleno yang kerap diwarnai perbedaan pendapat dan argumen yang tajam, ia berharap agar seluruh kader NU tetap menjaga kepala dingin dan mengutamakan dialog yang santun. Menghindari perdebatan yang tidak produktif dan berpotensi menimbulkan perpecahan adalah kunci agar organisasi ini dapat terus berkonsentrasi pada pemberdayaan umat di daerah-daerah pelosok.
Harapan untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama
Kehadiran dan pesan damai dari PWNU Papua Pegunungan di Tambak Beras ini diharapkan mampu menginspirasi seluruh peserta sidang pleno untuk terus merawat nilai-nilai toleransi universal. Semangat inklusivitas yang ditunjukkan oleh delegasi Papua Pegunungan, yang bahkan merangkul saudara umat Nasrani dalam menyemarakkan kegiatan ini, menjadi bukti nyata bahwa NU adalah rumah besar bagi kemanusiaan. Dengan selesainya agenda sidang pleno ini, komitmen bersama untuk mengembangkan NU ke arah yang lebih progresif, damai, dan inklusif diharapkan dapat segera terealisasi dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia.