JOMBANG – Sidang Pleno Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, secara resmi menetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk Masa Khidmat 2026-2031. Keputusan krusial ini diambil dalam musyawarah tertutup yang digelar oleh sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqd (AHWA) pada Minggu malam, 30 Agustus 2026, yang bertepatan dengan tanggal 17 Safar 1448 Hijriah. Bertempat di Gedung Serbaguna KH. Abdul Wahab Chasbullah, proses pemilihan yang berlangsung khidmat sejak pukul 21.00 hingga 22.00 WIB tersebut menghasilkan mufakat bulat demi masa depan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini.
Mekanisme pemilihan melalui sistem AHWA ini kembali menunjukkan kematangan sosiopolitik dan spiritual di tubuh Nahdlatul Ulama. Sembilan ulama sepuh yang terpilih sebagai anggota AHWA melakukan musyawarah secara tertutup demi menghindari polarisasi dan menjaga marwah luhur organisasi. Setelah melakukan diskusi mendalam dan mempertimbangkan berbagai aspek kemaslahatan umat, seluruh anggota AHWA secara mufakat dan tanpa hambatan menunjuk kembali KH. Miftachul Akhyar untuk mengemban amanah sebagai nakhoda spiritual tertinggi PBNU selama lima tahun ke depan.
Sembilan Ulama Sepuh Sahkan Keputusan Muktamar ke-35
Keabsahan terpilihnya KH. Miftachul Akhyar ditandai dengan penandatanganan dokumen keputusan oleh sembilan ulama kharismatik yang tergabung dalam formatur AHWA Muktamar ke-35 NU. . Kehadiran dan konsensus para ulama pilar NU ini memberikan legitimasi moral dan organisasional yang sangat kuat terhadap kepemimpinan PBNU di periode baru ini.
Amanat Penting AHWA: Merangkul Seluruh Potensi Nahdliyin
Di balik penetapan ini, para anggota AHWA menitipkan sebuah pesan dan amanat penting yang wajib dijalankan oleh Rais Aam terpilih dalam menjalankan roda organisasi ke depan. KH. Miftachul Akhyar diinstruksikan untuk merangkul seluruh potensi yang ada di dalam Nahdlatul Ulama, tanpa memandang perbedaan latar belakang faksi atau dinamika politik internal yang sempat menghangat selama proses muktamar berlangsung. Langkah rekonsiliasi dan konsolidasi ini dinilai sangat krusial agar seluruh elemen Nahdliyin dapat bergerak bersama-sama dalam merawat, mengurus, dan membesarkan NU secara kolektif di era modern yang penuh dengan tantangan global.
Penutupan sidang pleno pembacaan keputusan AHWA tersebut diiringi dengan rasa syukur yang mendalam dari seluruh peserta muktamar yang memadati area pesantren. Perwakilan AHWA menyampaikan harapan besar agar seluruh langkah perjuangan, pengabdian, dan program-program strategis yang akan dirancang oleh kepengurusan baru senantiasa mendapatkan rida dan keberkahan dari Allah SWT. Dengan selesainya agenda pemilihan Rais Aam ini, Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang bersiap melanjutkan agenda berikutnya guna memperkokoh peran NU dalam menjaga ukhuwah Islamiyah dan persatuan bangsa.